Jangan Pergi, Nadiku!
Jangan Pergi, Nadiku!
“Udah dong.. Berhenti nyakitin diri sendiri”
“Ini bukan nyakitin nadi, biar tubuhku gak manja”
“Tapi ini berlebihan..”
“Udah biarin aja” Ucap nuga sambil terus berlari
mengelilingi lapangan sepak bola yang berada di dekat rumahnya. Dia suka
melakukan hal ini, karena impiannya yang ingin menjadi abdi negara. Dia tidak
membiarkan orang lain tau tentang keinginannya ini kecuali keluarga dan sahabat
terbaiknya.. Nadhira.
Nadhira dan Nuga sudah bersahabat sejak lama, mereka
dekat.. Sangat dekat. Nuga tau semua tentang nadhira, mulai dari makan
kesukaan, hewan yang dibenci, hingga jadwal tamu bulanan nadhira. Dia merasa
nyaman memberitahu segala rahasia kepada nadi, begitu nama panggilan nuga
kepadanya dan dia juga tidak suka ada yang memanggil nadhira dengan sebutan
yang sama dengannya, nadi hanya miliknya. Dia bahkan akan rela berkelahi
seandainya ada yang memaksa memanggil nadhira dengan hal yang sama dengannya.
Nadhira sangat menyayangi nuga. Dia biasa menemani nuga
saat sedang berlari, dia senang melihatnya begitu. Menurutnya orang yang rela
panas dan kelelahan karena cita citanya itu tandanya orang tersebut bertanggung
jawab terhadap harapannya. Nuga sering berlari terlalu keras dengan beban yang
sengaja diletakkan dikakinya juga jaket parasut yang akan menambah keringat
untuk keluar lebih banyak. Tak jarang kakinya kram akibat kelelahan dan membuat
nadhira cemas.
“Udahan dong nugg” ucap nadhira sambil berteriak,
suaranya pasti sulit didengar saat berada di lapangan seperti ini
“Waitt.. Bentar.. Dikit lagi..” bantah nuga
Nadhira hanya diam, nuga adalah sosok yang keras kepala.
Sampai tiba-tiba nuga berhenti di tengah lapangan sambil memegang betis
kakinya, dia tak tahan lalu langsung duduk begitu saja dilapangan. Melihat
kejadian itu nadhira tau betul apa yang terjadi pada nuga, bergegas dia berlari
kelapangan menuju nuga. Nadhira yang ekskul PMR di sekolah sehingga dia tau
penanganan terhadap seseorang yang terserang kram.
“Berapa kali harus bilang? Begini kan jadinya” Nadhira
khawatir
“sSntai dong nadi, aku gak papa. Kram dikit doang”
“Tapi sakit kan”
“Ngga terlalu kok” jawab nuga sambil nyengir untuk
menyakinkan sahabatnya ini
“Jangan bandel lagi ya” balas nadhira sambil terus
memijat betis nuga, berharap kram yang dialami nuga akan segera membaik.
“Ngga lagii.. Eh kramnya udah mulai ilang nih”
Nadhira tersenyum bangga
“Bakat banget sih jadi tukang pijet” ledek nuga
“Apaaa???” nadhira kesal dan tangannya otomatis menjitak
kepala nuga saking kesalnya
“ Aduhh, kramku ganti ke kepala nadi. Pijetin lagi dong”
Nadhira kembali menjitak kepala nuga, sekali.. dua
kali.. tiga kali..
“Hahaha.. Ampun dong, aku haus banget nih”
“Yaudah, Aku dah
bawain minum buat kamu”
“Wahh.. Beruntungnya aku” Ucap nuga lalu tersenyum
“Minumannya ada di tas, ayok kesana” sambil menunjuk tas
pink yang berada di pinggir lapangan.
Nuga mengiyakan dan keduanya berjalan beriringan menuju
tepi lapangan.
Menemani nuga berlari di lapangan adalah hal yang
menenangkan bagi nadhira, jadi seperti inilah dia, setiap sepulang sekolah.
Menunggu sampai nuga selesai berlari, tak jarang nuga mengeluh kepadanya.
Nadhira adalah teman setia yang selalu menemani dan mendoakan yang terbaik
untuk nuga. Nuga pun merasa sangat beruntung mendapat teman yang baik dan
perhatian sepertinya. Mereka jarang dan bahkan hampir tidak pernah bertengar
dari awal mereka bersahabat. Semuanya berjalan sempurna, hidup mereka saling
tergantung antara satu dengan yang lain. Sampai saat nuga mengenal fanny.
Fanny adalah seorang murid pindahan, yang masuk satu
kelas dengan nuga. Nuga mengaguminya dan tak jarang nuga menceritakkan
keinginannya untuk dekat dengannya kepada nadhira. Sebenarnya nadhira adalah
sesorang yang cuek tentang semua orang, tapi dia selalu tertarik tentang semua
cerita milik nuga. Waktu terus berjalan dan membuat nuga dengan fanny semakin
dekat. Sosok nadhira kini sedikit banyak telah tergantikan oleh sosok fanny.
Fanny adalah seseorang yang ceria, dibalik itu dia
banyak terluka tentang kehidupan. Nadhira tau semua ini dari nuga. Nuga sangat
kagum dengan ketegaran yang dimiliki fanny untuk menjalani hidup ini. Nadhira
sebenarnya juga berteman baik dengan fanny, tapi tetap saja dia masih belum
rela jika nuga lebih dekat dengan orang lain selain dirinya. Bahkan, nuga
sampai melupakan hari ulang tahun nadhira.
“Hari ini hari apa yaa”
“Hari sabtu dong nadi”
“Tanggal berapa?” nadhira terus berusaha meningatkan
nuga
“11 juli kan.. kenapa sih nadi” nuga belum sadar
“Bukan hari spesial siapa gituu?”
Nuga menggeleng sebentar “Ehh nadi, kamu ulang tahun
yaa.. Kok bisa lupa sihh aku” ucap nuga sambil mejitak kepalanya sendiri tanda
menyesal.
“Gakpapa kokk nug, nanti malem jalan-jalan ya.. udaah
lama kita gak jalan-jalan sambil ngerayain ulang tahunku”
“Ide bagus tuh, dimana?” jawab nuga antusias
“Kayak biasanya, bawa aku ke jalan - jalan ke tempat
baru”
“Oke, siyap tuan putri” Nuga langsung menegakkan badan
dan mengangkat tangan ke pelipis seperti posisi hormat
“Apaan sih nug, ditunggu ya nanti malem”
“Oke”
Nadhira sangat senang, nuga sudah lama tidak bermain
dengannya. Karena ada sosok fanny. Dia bergegas pulang kemudian mandi
menggunakan lulur sabun terbaik miliknya, memilih baju terbaru, dan dia ingin
berdandan kali ini. Dia sampai menonton tutorial make up di youtobe. Wajahnya
semakin lucu dengan tambahan blush on tipis dipipinya, maskara, dan lip ice
yang membuat bibirnya lebih merah dari biasanya. Rambutnya dibiarkan terurai
dan hanya dihiasi jepit kecil pemberian nuga dulu. Dia padukan dengan dress putih
selutut dan ditambahkan dengan cardigan berwarna maroon. Dia sudah siap. Akan
tetapi, Nuga belum juga muncul untuk menjemputnya.
‘Ihh mana sih nuga”-Gumannya dalam hati
30 menit berlalu, nuga tak juga terlihat batang
hidungnya sehingga nadhira memutuskan untuk menelpon dan ingin menanyakan
keberadaanya. Sekali panggilan tak terjawab.. dua kalii.. tetap tak terjawab.
Nadhira menelpon hingga hampir lima kali dan kali ini baru terhubung.
“Hallo nug, kamu dimana?”
“Hallo ini nadhira ya?” bukan nuga yang menjawab
melaikan suara wanita yang tak asing didengar nadhira
“Ini..” Nadhira mencoba mengingat suara yang didengarnya
kali ini
“Ini fanny nad” sela fanny menyadari kebingungan nadhira
“Loh fanny, nuga lagi sama kamu? Dia dimana?”
“Iya nuga lagi mesen makanan, dari tadi kamu nelpon jadi
aku mutusin buat angkat. Takut ada sesuatu yang penting. Emang ada apa nad?”
“Ohh ngga.. iseng aja aku. Jangan bilang kalo aku nelpon
ya, have fun fan”
“Oalah okey nad, makasih ya”
Nadhira tak mampu menjawab lagi, langsung dia matikan
sambungan telponnya tak terasa air matanya menetes. Hatinya serasa dihatam batu
tepat di dadanya. Sesak. Dia menangis tak menyangka sahabatnya akan
mengecewakanya. Dia menangis sejadi - jadinya sampai tertidur dalam keadaan
make up dan baju yang belum sempat digantinya.
Keesokan harinya, nadhira memilih untuk menjahi nuga.
Selain rasa sakit dihatinya belum juga reda, dia juga takut untuk menggangu
kebahagian nuga yang telah dibuat oleh fanny. Nuga yang menyadari kesalahanya
sekuat tenaga meminta maaf kepada nadhira. Segala cara telah nuga coba untuk
membuat nadinya memafkannya tapi nadhira tetap menolak permintaan maaf dari
nuga.
Nadhira sangat rindu dengan nuga, karena semua hal
hampir dilakukan mereka berdua, sekarang nadhira harus berusaha hidup tanpa
nuga, rasanya aneh. Tapi nadhira pasti bisa. Nuga melakukan hal-hal kecil yang
dengan cara yang berbeda dari siapapun untuk membuat nadhira memaafkannya.
Nadhira tidak pernah merasakan rasa sakit yang sehebat ini, mungkin karena nuga
terlalu lama, dia terlalu berbeda. Sekuat apapun nadhira mencoba menjauh
bayangan nuga selalu membuntutinya. Ada beberapa orang yang mencoba
menggantikan nuga, tapi bahkan sebagai bayanganya-pun mereka takkan sanggup.
Tapi, menjauh adalah cara terbaik melupakannya.
Sementara nuga, sangat merasa kehilangan sosok nadhira.
Dia sangat merasa bersalah dan merasakan kekecewaan pada dirinya sendiri. Nuga
bahkan tidak sedekat dulu pada fanny, yang hatinya inginkan sebenarnya adalah
kenyaman milik nadhira. Dia hanya kagum dengan fanny, tidak lebih. Yang
diinginkannya sekarang adalah kehidupannya dengan nadi tanpa ada orang lain
lagi. Dia rindu nadhira, segala macam permitaan maaf telah dia coba untuk
kembali meluluhkan hati nadi-nya. Tapi semuanya terlambat. Nadhira tak mau
kembali dengannya. Hanya penyesalan yang kini meyelimuti hari-harinya. Dia tak
semangat dalam melakukan hal apapun, baik dalam hal sekolah dan dia telah lama
tidak melatih fisiknya lagi. Kehilangan nadhira menyebabkan luka besar yang
menganga dalam hatinya.
Walau menjauh nadhira masih sering mencari informasi
tentang keadaan nuga. Dia juga tau tentang nuga yang tidak lagi melatih
fisiknya padahal tes sebentar lagi akan dilakukan. Dia juga tak rela jika nuga
melewatkan tes yang selama ini dia perjuangkan hanya karena masalah seperti
ini. Sehingga nadhira memutuskan untuk menyapa dan berharap dapat mengembalikan
semangat nuga kembali.
“Nuga” sapa nadhira
Nuga sangat senang mendengarnya bahkan dia masih diam
dan meyakinkan bahwa nadhira benar-benar menyapanya. Dia segera sadar dan
nadhira sedang benar-benar berada didepannya.
“Na-di” balasnya masih terbata
“ Kok kamu berhenti larinya?”
“Gak aja nad, aku males” nuga malu menyatakan hal yang
sebenarnya.
“Nanti siang lari ya, aku temenin”
“Iyaa iyaa.. mau bangett” jawab nuga sangat bersemangat
“Okey sip, see you ya”
“Daa.. nadi”
Sapaan dari nadhira membuat nuga kembali bersemangat,
dia yakin pasti akan bisa memperbaiki hubungannya dengan nadhira kembali. Dia
berjanji dalam hatinya untuk tidak melakukan hal yang sama lagi. Nuga menyadari
bahwa nadhira bukan hanya dianggapnya sebagai seorang sahabat akan tetapi lebih
dari itu, dia mencintai nadhira. Jeda yang ada kemaren membuatnya menyadari
bahwa nadhira sudah menjadi nadi bagi kehidupanya. Dia tidak ingin kehilangan
nadinya lagi, dia ingin impiannya tercapai dan akan dipersembahkannya untuk
nadinya. Itu janji nuga pada dirinya.[]
Komentar
Posting Komentar