Kehilangan Saat Senja
[Satu pesan masuk diterima]
Agatha yang memang sedang menyalin catatan matematika melalui hape , langsung membuka pesan itu. Pesan dari kontak yang belum berteman sebelumnya dengannya. Disitu tertulis nama juna mengirimkan sebuah foto.
Agatha mengerutkan kedua alisnya, dan segera ingin mengetahui foto apa yang juna kirimkan untuknya.
‘Hah.. Ini serius’ - Batinya
“Loh ini apa?” walaupun agatha mengetahui betul apa yang juna kirimkan, dia hanya tak percaya apa yang sedang ada diterimanya.
“Kamu sudah SMA, Belum bisa baca?” balas juna
“Bisa.. Tapi kok bisa?” agatha masih keheranan
“Aku bisa tau apapun”
“Hmm, seriuss”
“Iya serius, besok kan kamu ulangan matematika, jangan beri tahu teman - temanmu yang lain ya”
“Kamu tau dari mana?”
“Sudah kubilang tha, aku bisa tau apapun. Setidaknya tentang kamu, cepet belajar. Kamu sudah aku beri kemudahan jangan di sia-siakan ya. Capek tau ambilnya”
Agatha tak tau lagi harus membalas pesan itu, dia ingat dia harusnya segera belajar. Juna benar, dia tidak boleh menyiakan kesempatannya kali ini dan segera menjawab dan memahami semua soal lalu pergi tidur.
Keesokan harinya..
Pada jam ke 4 ulangan dimulai, agatha menemukan soal yang sama persis seperti yang dikirim oleh juna, batinnya tersenyum sambil mengucapkan terimakasih dan berharap juna mendengaranya. Agatha mengerjakan semua soal dengan serius dan berharap dirinya akan mendapatkan nilai sempurna pada ulangan matematika kali ini.
“Waktu telah selesai, jawaban segera dikumpulkan” ucap Kak Karno memecah keheningan
Seketika ruangan bergemuruh, anak - anak banyak yang belum menyelesaikan semua soal yang diberikan. Agatha segera mengumpulkan lalu berbegas meningalkan ruangan disusul oleh sahabatnya, dilfa.
“Gilaa.. Susah banget sih soalnya tadi. Yakkan tha?”
“Wkwk, mangkanya belajar” balas agatha
“Aku belajar kok, kan catetanku lebih lengkap dari kamu” ejek dilfa
“Mana ada”
“Buktinya kemaren kamu minta fotoin catetanku”
“Iya deh iyaa.. Makasihh”
“Makasih aja? Traktir jus”
“Iyadeh, yuk ke kantin”
“Yeay.. Yukk”
Saat perjalanan ke kantin dilfa melihat seorang siswa sedang di hukum oleh Pak Karno dan sedang berjemur di dengan posisi tangan hormat ke bendera merah putih.
“Eh tha, liat deh. Pak Karno lagi ngapain tuh” ucap dilfa pernasaran
“Biasalah, pasti ada anak bandel lagi”
“Oiya sih kan Pak Karno kan juga tim tatib ya”
“Iya”
“Kamu gak penasaran siapa yang kena hukum?”
“Ngga” awab agatha singkat
“Aku penasaran nihh”
“Yaudah sana” agatha sama sekali tak tertarik
“ Aku kesana dulu ya, kamu beneran disini?” dilfa meyakinkan
“Iya”
Setelah dilfa berjalan menjauh, agatha baru sadar jika dia sedirian dan memutuskan untuk mengejar dilfa. Dia tidak suka sendirian.
“Dil.. Tungguin” ucap agatha agak berteriak
Dilfa menoleh, “Katanya gak penasaran”
“Terus aku berdiri disana sendirian” rengek agatha
“Yaudah sih liat bentar, yukk” ajak dilfa ssambil menggendeng tangan agatha.
Betapa terkejutya agatha ternyata siswa yang sedang dihukum itu adalah juna. Dia mendekat, dan bertanya pada Pak Karno apa yang terjadi. Dengan nada emosi pak karno menjelakan bahwa juan telah mencuri salah satu lembar ulangan miliknya dan dia memergoki juna saat melihat tayangan ulang di cctv. Jantung agatha berdegup cukup cepat, keringatnya juga mengalir deras hampir menyamai milik juna yang sedang berjemur di halaman sekolah siang ini. Dia teringat pada juna yang telah memberikannya soal ujian tadi malam. Bagaimana jika dia turut disebut oleh juna dan akan mendapatkan hukuman. Agatha ketakutan.
“Si juna tuh emang nakal banget, gak heran deh kena hukum. Gak ada jera- jeranya deh kayaknya” omelan dilfa memecah khayalan agatha
“Yuk beli jus” hanya itu yang sanggut agatha ucapkan, daa harus segera pergi dan berharap juan tidak melihatnya.
“Yuk”
Agatha lega bisa berjalan menjauh, setelah cukup jauh dia ingin menoleh kearah juna yang sedang menyipitkan matanya karena sedang menatap kearah bendera, agatha kasihan melihatnya, secara tidak langsung dia turut andil dalam kesalahan ini walaupun dia tidak pernah memintanya. Pada saat yang sama juna menoleh ke arah agatha kemudian kedua mata itu bertemu juna tersenyum. Agatha gelagapan saat mengetahui juna melihatnya, kemudian lansung berpaling dan mengejar dilfa yang sudah berjalan di depannya.
[Pesan baru telah diterima]
‘Agahta..’ isi pesan tersebut
Pesan itu dari juna, hati agatha langsung gemetar dia takut juna akan marah terhadapnya.
‘maaf’ balas agatha
‘untuk apa?’
‘tadi dihukum kan’
‘udah biasa kok, santai lah’
‘panas ya tadi’ balas agatha prihatin
‘sinar matahari kan baik, dia cuma bikn hangat kok’ bela juna
‘tapi tadi panas banget’
‘ngga ih biasa aja, btw lagi ngapain tha?’
‘sedang tidak melakukan apapun’
‘bales chat aja kamu sebut apa?’
‘hahaha’
Obrolan itu berlanjut, obrolan yang tidak pernah penting tapi selalu membuat hati agatha hangat dan bibirnya tersenyum. Juna memang berbeda dari kebanyakan orang lain, dia dicap nakal oleh banyak guru, dia juga sering dipanggil BK akibat sering bolos sekolah. Dia suka kebebasan. Hidupnya tidak mau diatur oleh orang lain. Tetapi dia memiliki sisi lain dimata agatha, sisi yang belum banyak diketahui orang lain.
Seiiring berjalannya hari, agatha dan juna semakin dekat. Intensitas chatting dan bertemu juga semakin sering. Juna jarang mengajak agatha pergi bersama tapi dia selalu tau kapan agatha sedih dan tau bahwa eskrim yang akan menangkalnya.
[Pesan masuk diterima]
‘kenapa cemberut tadi pas pulang sekolah?’ tanya juna
‘gak tau’
‘ihh, kalo pohon mangga tau?’
‘tau lah’
‘pohonya ada dimana?’
‘banyak juna.. Apaasih’ agatha kesal
‘kamu punya pohon mangga nggak?’
‘ada di depan’
‘pohon mangga skrg berbuah eskrim loh’
‘ngawur’
‘loh serius, cek deh depan rumah kamu’
‘mager’
‘beneran, ntar mencair’ balas juan menyakinkan
Agatha sebenernya sedang tidak ingin beranjak dari tempat tidurnya, tapi juna menspam dan mau tak mau dia harus menuruti permintaan juna untuk memfoto buah mangga untuk memastikan pohon mangganya berbuah mangga. Agatha akhirnya mengalah dan berjalan menuju pohon itu.
Agatha terkejut ketika melihat disela pohon itu ada 3 balon berwarna pink juga 2 buah eskrim yang diikatkan dibawahnya. Juna benar. Pohon mangganya kini berbuah eskrim.
Agatha tersenyum, melupakan kesedihannya. Es krim dapat mendinginkan bibirnya, juan dapat menyejukan hatinya. Agatha bahagia dapat bertemu dengan juna, dia bukanlah sosok semenyebalkan yang dikenal banyak orang dia mengubah hari - hari agatha dengan warna baru. Keduanya merasakan kenyamanan yang sama, juna tidak lagi se nakal dulu dia telah menemukan ketenanganya, agatha.
Juna adalah sosok yang cuek tentang keadaan apapun yang ada disekolah, sampai hari kelulusan tiba. Waktu berjalan sangat cepat, dan hal yang membuatnya membenci kelulusan di sekolah adalah kini dia dan agatha akan berbeda kota untuk menempuh perkuliahan. Setelah hari pengumuman kelulusan ditempelkan anak - anak mengerubungi papan pengumuman dan bersorai gembira. Juna menarik tangan agatha dan mengajaknya ke taman sekolah.
“Emm.. Tha” juna memulai
“Iya juna?”
“Kita lulus loh”
“Tau kok, kan tadi liatnya bareng. Kamu seneng?”
“Jalan-jalan yuk” potong juna
“Kemana?”
“Tanpa tujuan aja, aku ajak kamu ketemu sama kesayanganku. Mau ya?”
Hati agatha bergetar, untuk apa juan memamerkan ini semua. Juna adalah lelaki dengan sikap dan kata2 manis, sering membual, takkan heran jika dapat dekat dengan beberapa perempuan. Tapi kali ini untuk apa agatha bertemu dengan kesayangannya, sungguh takkan pernah terfikirkan sebelumnya.
“Ngga mau ahh” tolak agatha
“Loh kenapa?”
“Maluu aku”
“Pasti takut kalah cantik ya? “
“Apaan sih ya ngga lah” bela agatha
“Jadi ikut ya, tujukin kamu lebih cantik dari dia”
“Ngga mau”
“Harus mau, nanti sore aku jemput di depan rumah”
“Aku ngga mau keluar rumah”
“Aku yang bakal masuk?” ejek juna
“Nggak!!”
“See you nanti sore ya tha” ucap juna sambil berjalan menuju parkiran. Meninggalkan agatha yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Akan seperti apa kesayangan juna ya, memikirkannya sudah membuat moodnya mendadak buruk.
Sore harinya juna menepati janjinya, dia tiba dirumah agatha. Dan jika agatha tak kunjung keluar dia yang akan masuk ke dalam rumah agatha. Itu bukan hal yang sulit bagi juna, dia sudah biasa membuat keinginannya tercapai dengan berbagai cara. Agatha dengan berat hati keluar dan pergi bersamanya. Juna telah menyiapkan sebuah eskrim rasa macha untuk agatha yang dilekatkkan di depan kap mobilnya. Agatha yang menyadari ada eskrim membuat moodnya kembali dan lagi lagi dapat melupakan kekesalannya pada juna. Keduanya tertawa bersama, bahkan agatha tidak peduli juna akan membawanya kemana.
“Sebentar lagi sampai bertemu dengan kesaayanganku. Dia sudah menunggu sedari tadi” ujar juna, mulai serius
Agatha lemas seketika, berakhir sampai sini kah. Atau ini adalah peringatan untuknya agar menjauhi juna secara halus. Tapi yang dilihatnya adalah perjalanan menuju pantai tanpa ada rumah sedikitpun“Kok dideket pantai?”
“Iya, dia nunggu disana” tunjuk juna, sembali mematikan mobil dan mengisaratkan agar agatha keluar bersamanya.
Juna berjalan lebih dekat pada ombak dan duduk diantara pasir putih itu. Kadang ombak itu dapat menyentuh kakinya, sedangkan agatha dia hanya terdiam melihat hal yang dilakukan juan dia tidak melihat siapapun dipantai itu. Juna menoleh dan mengisyaratkan untuk agatha duduk disampingnya.
Agatha mengiyakan, banyak pertanyaan yang masih tersimpan di benaknya.
“Mana kesayangamu? Apa dia tidak datang?” agatha mencari jawaban dari pertanyaannya
Juna tersenyum “Dia selalu menepati janjinya, lihat disana”
“Aku tidak melihat siapapun, hanya matahari yang akan ternggelam” balas agatha
“Dia kesayangaku”
“Ini yang mau kamu perkanalkan ke aku?”
“Iya..ini kesayanganku. Jangan nakal nakal ya sama dia”
“Kalo dia yang nakal sama aku gimana?” balas agatha
“Ngga mungkin, dia baik kok. Kecuali kalo kamu jahatin aku” juna lalu tersenyum
“Mana bisa aku jahatin kamu”
“Kamu adalah orang paling bisa jahatin aku”
“Aku gak sejahat itu kok”
Keduanya tertewa kemudian hening tercipta.
“Tha, pacaran yuk” juna mengucakannya sambil menutup matanya, saat ini tangannya sedang mengenggam pasir.
Agatha terkejut, dia tak percaya dengan apa yang didengarnya tadi
“Ngelucuuu tok, kerjaanmu” agatha sambil tertawa yang sangat dipaksakan
Juna menatap mata agatha. Dalam sangat dalam. Menyakinkan kata - kata yang baru saja diucapkannya adalah benar dan berasal dari lubuk hatinya.
“Aku serius, kita akan berajauhan sebentar lagi. Aku butuh diyakinkan untuk membuatmu menjadi miliku”
Suasana menjadi hening, hanya ada suara ombak yang menambrak karang dengan malu - malu serta sang senja yang sudah mulai kata perpisahan pada dunia tapi dia akan selalu berjanji untuk kembali lagi esok hari.
“Akuu..” agatha terbata, kenangan masa lalunya kembali terlintas
“Mau tidak?”
“Aku belum siap berkomitmen, juna”
“Oke kalau begitu maumu, kukira selama ini semua kenangan itu sudah hilang. Aku tidak ingin memaksamu untuk hal ini”
Senja sudah benar benar pergi, langit sudah kehilangan cahayanya, sama seperti hati juna dan agatha kehilangan cahaya meraka berdua.
“Senja sudah pergi, pulang yuk” ajak juna
Agatha hanya mengangguk suasana menjadi canggung. Tak ada lagi canda dan tawa seperti saat berangkat tadi. Kedua insan itu sibuk dengan pikirannya masing masing dan tenggelam didalamnya.
Waktu perjalanan pulang gelap dan dingin, seperti sikap juan kepada agatha. Sesampainya dirumah agatha, dia langsung turun dan mengucapan terimakasih terhadap juna, belum sempat agatha menyelesaikan kalimatnya juna segara berlalu dan melajukan mobilnya sangat cepat.
‘Hati - hati, juna’ -Batin agatha.
Juna tidak terbiasa menerima penolakan, dia tidak bisa menerimanya. Selama ini dia biasa memilki apa yang dia inginkan, dia rela melakukan segala hal agar keinginannya terwujud. Tapi kali ini dia tak bisa memaksa. Dia kesal terhadap agatha dan juga kesal terhadap dirinya sendiri, mengapa dia begitu mencintainya, bahkan ketika tau bahwa agatha tidak merasakan hal yang sama. Malam itu menjadi malam yang buruk untuknya.
Agatha sayang kepada juna, bahkan dapat dikatakan bahwa sebenarnya agatha juga merasakan cinta yang sama terhadap juna tapi dia belum siap untuk kembali berkomitmen, dia teringat terakhir kali dia meneguhkan hatinya pada orang yang salah sehingga membuat hatinya terluka sangat dalam. Juna adalah orang yang mengembalikan keceriaanya, tetapi dia belum siap hal itu terjadi kembali. Dia belum siap jika harus sakit hati kembali.
***
Sampai hari keberangkatan agatha ke tempat perantauannya juna tak kunjung menemuinya pula. Juna tak mau membalas pesan yang agatha kirimkan. Dia tak menerima semua permintaan maaf dari agatha. Agatha menyesal dengan sikapnya, dia mengalami hari - hari yang buruk setelah hari itu. Ketika moodnya hancur, tak ada lagi eskrim yang menemaninya. Agatha telah mencoba membeli eskrim seperti yang biasa juna beri tetapi mood nya tak berubah. Eskrim memang perantara yang dapat mnyejukkan hati agatha tapi penyebab utamanya adalah karena juna yang memberikan. Tanpa juna eskrim bukanlah hal yang menyengkan.
Agatha sangat menyesali ucapannya waktu itu, dia benar - benar kehilangan juna. Juna benar kehilangan agatha. Keduanya saling kehilangan.
Komentar
Posting Komentar